Welcome to Rimba Hijau, Sep 08, 2010 Login di sini, User name : Password :

  Sejarah Kejadian

  Langkah Pertama

  Rumusan Tujuan

  Susunan Redaksi


KEJADIAN AWAL (halaman: 1 | 2 | 3 | 4)

Ban-Liong Tayhwee:
Berdirinya Masyarakat Tjerita Silat

       Buat para penggemar tjersil kawakan, kata BAN LIONG TAY-HWEE tidak akan menimbulkan kesulitan membaca. Hanya saja maknanya yang belum tentu bisa difahami dengan segera. Banliong
adalah bacaan untuk kota Bandung dalam huruf Han (penulisan dalam hanyu pinyin adalah wanlong). Penggal kedua sudah pasti jelas, enghiong=orang gagah dan tay-hwee=pertemuan besar.
       Namun yang menjadikan peristiwa itu penting adalah bahwa Banliong tayhwee yang diadakan pada tanggal 6 Juni yang lalu itu merupakan acara pendirian suatu badan hukum yang bernama
Masyarakat Tjerita Silat atau disingkat MTjersil dan nama kesayangannya adalah Boe Hiap Sia. Sudah jelas juga bahwa peristiwa ini tidak terjadi dengan begitu saja. MTjersil berdiri sesudah melalui proses yang alot, bahkan beberapa sahabat
mengatakannya bertele-tele.
       Gagasan pendirian ini telah tercetus ketika beberapa anggota senarai tjersil@yahoogroups.com mulai berkumpul (`kopi-darat`) lebih sering. Kita semua tahu bahwa senarai berdiri di bulan

Desember 2002 dan pertemuan kopi-darat mulai terjadi di bulan Maret 2003 dan memuncak di bukan Juli ketika Eng-hiong-tay-hwee pertama digelar dengan tamu kehormatan Gan KL dan Leo Suryadinata. Dalam pertemuan inilah mulai mengemuka gagasan pendirian suatu badan untuk menampung aspirasi para penggemar tjersil yang terkumpul.
       Sesudah itu masih ada serangkaian pertemuan yang menggumpalkan gagasan awal. Terpenting adalah pertemuan di Lan-hoa-kee pada tanggal 10 Oktober 2003. Bentuk badan hukum sudah bisa dipastikan, yaitu perkumpulan atau perserikatan. Rumusan tujuan juga makin dipertegas, yaitu (1) mengangkat khazanah cerita silat pada khususnya dan kepustakaan berbahasa Indonesia-Tionghoa pada umumnya, sebagai bagian kesusasteraan Indonesia. (2) membangkitkan kembali gairah akan
kepustakaan cerita silat di Indonesia, khususnya yang menggunakan bahasa Indonesia-Tionghoa dan (3) menggalakkan penulisan cerita silat baru dan penerjemahan buku cerita silat berbahasa
asing.
       Selain itu program kegiatan dipersiapkan semakin matang, antara lain: penerbitan majalah/