Meski besok masih ada ujian akhir semester di sekolah, namun aku boleh bermain sepeda bersama papa. Sudah sekian lama aku tidak bermain sepeda, bahkan sepedanya baru dibetulin di bengkel dan dipasang standard. Biasanya kalaupun main sepeda, aku putar-putar di dalam rumah saja. `Makanya aku nggak bisa lancar naik sepedanya pa, karena kalau di dalam rumah sempit, aku takut nabrak dan kalau nabrak nanti dimarahi mama,` demikian aku bercerita ke papa sambil naik sepeda dengan gembira.
Sore ini memang papa menemaniku bersepeda ke taman Blok F di dekat rumah. Aku bisa dengan bebas bersepeda mengelilingi setengah lapangan karena setengah lainnya sedang ada beberapa orang main basket. Sementara aku bersepeda, papa duduk di pinggir lapangan dan sambil bersepeda, mulutku tidak pernah berhenti, kalau tidak sambil cerita yah berteriak entah karena seru atau hampir jatuh. Sepedaku masih sepeda kuning kecil yang sudah ditanggalkan roda belakan kecil penyangganya. Meski sebenarnya sudah bisa naik sepeda, namun menurut papa aku masih kurang lancar dan kurang nyaman dalam bersepeda. Saat semakin sore, setengah lapangan tempatku berputar dengan sepeda juga sudah ada orang yang main basket, papa lalu mengajakku bersepeda di jalanan komplek sambil mengarah kembali ke rumah. Papa lalu mengambil sepeda dan mengajakku bersepeda bareng mengitari jalanan komplek. Kali ini benar-benar membuatku suka bersepeda, karena selain main sepeda juga bisa mengitari jalanan komplek. Sambil bersepeda papa juga menunjukkan pohon Mengkudu dan buahnya, pohon kelapa dan aneka fungsinya, pohon mangga dll. Aku akhirnya bisa mengenali pohon kelapa gading juga. Baru sekarang juga aku tahu bahwa dearah Kelapa Gading dan malnya itu namanya diambil dari nama pohon.
Meski beberapa kali sempat hampir terjatuh, aku tetap semangat naik sepeda, apalagi setelah papa pompa lagi bannya agar tidak terlalu kempes saat melewati jalanan yang berbatu kerikil. Aku sudah rute jalanan yang mengitari komplek perumahan, meski terkadang aku juga harus minggir menepi bila ada mobil ataupun motor yang melintas. Meski senja sudah tiba dan makin gelap, aku masih nawar untuk berputar sekali lagi, dan saat putaran terakhir hampir sampai rumah itu aku sempat terjatuh miring dan dekat dengkul kananku tergores memerah. Memang sepeda ini sudah terlalu pendek juga untukku, makanya rencananya akan ditinggikan posisi sadelnya agar kalau mengayuh pedalnya dengkulku tidak gampang tergores.
Saat mama menanyakan apakah aku happy bersepeda sore ini, aku jawab nggak happy alasannya karena dengkul kanan yang tergores. Aku juga bilang ke papa bahwa kalau bersepeda lama pantatku juga cape kena sadelnya yang keras. Aku bilang sudah coba maju dikit atau mundur dikit tetap sakit pantatnya. Meski demikian aku minta papa mau menemaniku bersepeda lagi, meskipun kalau sadel sepedanya belum ditinggikan.
Akhir-akhir ini aku juga suka memainkan mainan yang dulu punya dan sempat diparkir karena aku sibuk belajar atau main yang baru. Mama juga sempat terheran-heran melihatku ambil hulahop yang dulu pernah dibelikan dan sempat main tapi kurang bisa, kok tiba-tiba sekarang sudah bisa meski belum bisa bertahan cukup lama. Setidaknya aku sudah bisa goyang sampai sekitar 10 putaran, kan lumayan juga. Kalau sudah niat, aku seperti biasa aku coba terus sampai bisa, begitu juga dengan hulahop kali ini. Bosan dengan hulahop, aku ganti mainkan sepatu roda pink hadiah ultahku waktu 5 tahun dulu. Baru main beberapa saat, eh ternyata plastiknya `mrotoli kabeh` kataku karena memang semuanya jadi berguguran jadi gumpalan plastik. Memang cuma sebelah yang begitu, namun tak berapa lama kemudian ganti yang sebelah lagi mengalami nasib yang sama. Habis lah riwayat sepatu roda pinkku dan berakhir di tong sampah dalam keadaan `mrotoli` itu. Sayangnya kali ini rayuanku ke mama minta belikan yang baru tidak berhasil karena mama kuatir main sepatu roda di rumah membuat lantai jadi baret. Rupanya kisah habisnya riwayat mainanku belum berakhir di sini, giliran berikutnya adalah homyped pink yang juga hadiah ultahku, setelah aku buat main dan sudah mulai menurun papan plastiknya, tiba-tiba papannya patah di sekitar sambungan antara roda depan dan papan itu. Memang tahun lalu juga sudah sempat aku buat retak karena setirnya aku putar paksa saat itu, namun setelah dilem Alteco oleh papa, sudah bisa dipakai cukup lama, kali ini benar-benar patah dan susah diperbaiki. Ah sayangnya, mainanku rusak satu persatu.
|